Nama itu, awalnya aku tidak mengenalnya. Entah mengapa hampir semua orang membicarakannya. Sebagian besar yang kudengar mengenai hal-hal yang
buruk tentangnya. Tapi, selayaknya manusia, pasti ada unsur hiperbola di baliknya.
Prinsipku, semua manusia itu baik. “Jika memang benar buruk, pasti
ada alasannya.” Pikirku waktu itu.
Kemudian malam itu, ditengah gegap gempita suatu perayaan transisi sekelompok manusia muda saat memulai realita tahapan hidup sebagai ‘pencari
nafkah’, nama itu hadir. Ia datang menghampiri. Tanpa ada perkenalan, tiba-tiba Ia antusias ikut merayakan entah apa yang seharusnya dirayakan saat itu. Akupun
terpaksa mengikuti euphoria malam itu. Suara musik elektronik
dan riuh rendah teman-teman yang asik menari dan melompat memecah telinga dan
konsentrasiku. Dengan segala upaya untuk dapat menangkap apa yang sedang Ia katakan padaku, aku menarik kesimpulan jika aku akan banyak menghabiskan waktu dengannya dalam beberapa waktu kedepan.
Manusia acap kali salah dalam menangkap kesan pertama.
Apalagi jika ditambah dengan bumbu-bumbu penyedap gunjingan khalayak. Tak heran
jika dari awal aku membatasi diri untuk berhubungan dengannya. Bukan karena aku
percaya begitu saja akan omongan mereka tentangnya. Hanya saja, waktu itu aku lelah. Aku lelah dengan beban hidupku sendiri. Aku tidak punya energi lagi untuk mengurusi urusan orang lain, apalagi membuktikan jika omongan mereka benar atau
tidak. Lagian, Ia bukan siapa-siapa dan itu bukan urusanku.
Yang mengejutkan, diluar dari apa yang sudah kudengar
sebelumnya, kesan pertamaku padanya bagus. Terlampau bagus hingga menjadi kontradiksi
dari apa yang aku tau dari mereka selama ini. Tentu saja setelah aku mendengarkan
alasan-alasan yang Ia utarakan.
Ternyata benar prinsipku. Pada dasarnya manusia itu baik. Jikalau tidak, pasti ada alasannya.
Ternyata benar prinsipku. Pada dasarnya manusia itu baik. Jikalau tidak, pasti ada alasannya.
Sialnya, lambat laun Aku sadar, nama itu layaknya wujud dari
fantasi yang selama ini hanya dapat kubayangkan, yang kemudian hadir dalam sosok
manusia yang sedang menikmati es coklat dingin di hadapanku saat itu.
Nama itu bagaikan oasis dalam hidupku yang membosankan dalam wujud keapatisannya dengan sebuah gawai ditengah pelataran tempat wisata yang sangat ramai kala itu.
Nama itu bagaikan karya seni yang cantik nan misterius layaknya museum antik yang kami kunjungi waktu itu.
Tapi,
Nama itu tidak sama dengan snek mangga yang pernah aku nikmati berdua dengannya, yang dapat dengan mudahnya kubeli karena dijual dimana-mana.
Nama itu tidak seharusnya kukenang terus, layaknya suasana sebuah kota yang bahkan telah digambarkan dalam lirik lagu.
Aku sepenuhnya sadar, nama itu tidak bisa kusentuh. Ini diluar batasku dan Aku tidak boleh masuk. Aku harus menghindar.
Nama itu bagaikan oasis dalam hidupku yang membosankan dalam wujud keapatisannya dengan sebuah gawai ditengah pelataran tempat wisata yang sangat ramai kala itu.
Nama itu bagaikan karya seni yang cantik nan misterius layaknya museum antik yang kami kunjungi waktu itu.
Tapi,
Nama itu tidak sama dengan snek mangga yang pernah aku nikmati berdua dengannya, yang dapat dengan mudahnya kubeli karena dijual dimana-mana.
Nama itu tidak seharusnya kukenang terus, layaknya suasana sebuah kota yang bahkan telah digambarkan dalam lirik lagu.
Aku sepenuhnya sadar, nama itu tidak bisa kusentuh. Ini diluar batasku dan Aku tidak boleh masuk. Aku harus menghindar.
Selayaknya manusia biasa, aku tak kuasa menahan ego, pun tak punya hati untuk memaksakannya. Mungkin bagiku nama itu
duniaku, tapi tidak dengannya.
Nama itu, aku melakukan kesalahan.
Tidak dengannya, semestinya begitu.
Harusnya aku dengarkan suara hatiku,
untuk tidak mengenalnya dari awal.
*) Terinspirasi dari perhelatan dua sejoli di Commuter Line yang
menarik perhatian sejumlah penumpang

Comments
Post a Comment